LABUHA – Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang menyerang balita di Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel) masih menunjukkan angka yang cukup signifikan. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Halmahera Selatan sepanjang tahun 2026, tercatat sebanyak 4.806 kasus ISPA pada balita yang ditangani oleh 32 puskesmas di seluruh wilayah Halsel.
Dari total angka tersebut, Puskesmas Labuha mencatatkan jumlah kasus tertinggi sebanyak 561 kasus. Posisi berikutnya ditempati Puskesmas Gandasuli dengan 422 kasus, Wayaua 394 kasus, Babang 315 kasus, serta Saketa sebanyak 256 kasus.
Sementara itu, di wilayah Pulau Obi, penderita ISPA balita juga terdata di sejumlah fasilitas kesehatan (faskes). Rekapitulasi sepanjang 2026 menunjukkan Puskesmas Madopolo mencatat 228 kasus, disusul Puskesmas Wayaloar 145 kasus, Jikohai 78 kasus, Sum 66 kasus, dan Laiwui sebanyak 64 kasus.
Berbeda dari wilayah lainnya, data Puskesmas Pembantu (Pustu) Desa Kawasi justru memperlihatkan tren penurunan kasus ISPA pada anak. Pada Juli 2026, terdata sebanyak 43 kasus ISPA, melandai dibandingkan bulan sebelumnya yang mencatatkan 44 kasus.
Berdasarkan rekam medis sepanjang Januari 2025 hingga Juli 2026 di Desa Kawasi, diagnosis penyakit tertinggi didominasi oleh common cold (batuk pilek biasa). Penyakit seperti ISPA, demam, dan diare tetap muncul secara konsisten, namun masih dalam batas fluktuasi musiman yang stabil tanpa mengindikasikan lonjakan risiko abnormal.
Data tersebut sekaligus mengonfirmasi tidak adanya indikasi Kejadian Luar Biasa (KLB) di Desa Kawasi. Pola penyebaran penyakit murni dipengaruhi oleh faktor dinamika musim tanpa dominasi satu jenis penyakit tertentu.
Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan telah mengambil langkah strategis dengan membangun Pustu Kawasi guna menjawab tantangan akses kesehatan masyarakat. Pustu Kawasi mulai dibangun pada 2020 dan resmi beroperasi sejak diresmikan pada 2024.
”Keberadaan Pustu Kawasi berfokus pada pemenuhan hak dasar masyarakat terhadap layanan kesehatan. Fasilitas ini telah disiapkan dengan tenaga medis yang sesuai kebutuhan warga, mulai dari dokter umum, lima perawat, hingga tiga bidan. Layanan seperti Posyandu ibu dan anak serta pengobatan umum telah beroperasi optimal sejak 2024,” ungkap dr. Fitri Istikasari, tenaga medis Pustu Kawasi.
Ia menambahkan, Pustu Kawasi menjadikan kesehatan ibu dan anak sebagai prioritas utama. Faskes ini dilengkapi fasilitas klinis yang mencakup layanan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS), KIA dan KB, tindakan medis darurat, hingga ketersediaan apotek.
Manfaat kehadiran Pustu Kawasi dirasakan langsung oleh masyarakat setempat. Indah Dewi Siar, warga Kawasi, mengaku sangat terbantu karena kini warga tidak perlu lagi menyeberang ke Laiwui atau Labuha untuk berobat.
“Kami merasa sangat terbantu. Di Pustu Kawasi kami mendapatkan layanan pemeriksaan kesehatan yang sama dengan yang ada di pusat kecamatan atau kabupaten. Kami tidak kesulitan lagi berobat, termasuk saat memeriksakan kesehatan anak-anak,” tuturnya.
Kehadiran Pustu Kawasi yang lahir dari kolaborasi Pemkab Halsel dan Harita Nickel ini membuahkan hasil positif. Akses layanan kesehatan yang lebih dekat dan berkualitas memastikan penanganan dini terhadap berbagai penyakit dapat dilakukan secara optimal.







Tinggalkan komentar