Pulau Obi di Maluku Utara dikenal sebagai salah satu operasi penambangan nikel di Indonesia, melalui aktivitas perusahaan Harita Nickel. Tak heran kualitas udara laut di kawasan ini menjadi sorotan penting terutama karena sekitar geografisnya yang sangat dekat dengan garis pantai dan posisi ekosistem laut. Bukan hanya bagi perusahaan tetapi juga masyarakat lokal, lingkungan hidup, dan para pemangku kepentingan.
Kehidupan laut dan upaya menjaganya
Ekosistem laut di Obi masih menjadi sandaran banyak kehidupan. Nelayan yang melaut, ikan yang bersembunyi di terumbu, hingga karang yang tumbuh di reef cube buatan. Semua itu berlangsung seiring upaya Harita Nickel menjaga agar laut tetap produktif dan bisa diwariskan ke generasi berikutnya.
Ragam ikan dan karang hiasi perairan Obi
Pemantauan di area restorasi menunjukkan adanya 109 spesies ikan karang dari 22 famili yang kembali terlihat di perairan sekitar reef cube buatan. Ikan-ikan ini menjadikan struktur buatan sebagai tempat berlindung dan mencari makan.
Terumbu karang yang tumbuh di “rumah baru”
Sisa hasil pengolahan yang berupa terak nikel dan fly ash diubah menjadi reef cube. Kubus berongga yang diturunkan ke dasar laut. Struktur ini menjadi “rumah baru” bagi karang untuk tumbuh.
Dalam dua tahun terakhir, pengamatan mencatat pertumbuhan karang antara 0,93 cm hingga 6,64 cm. Angka ini menunjukkan kemajuan yang baik, mengingat terumbu karang biasanya membutuhkan waktu yang cukup lama dan kondisi laut yang stabil untuk tumbuh.
Lingkungan laut yang bersih, cahaya matahari yang cukup, dan suhu yang seimbang menjadi faktor penting yang mendukung pertumbuhan tersebut. Kini, di sekitar reef cube itu, mulai banyak bermunculan ikan-ikan kecil hingga kerapu yang mencari makan di antara karang muda.

Pemantauan rutin untuk menjaga kualitas laut
Harita Nickel tidak berhenti pada pemasangan reef cube saja. Tim lingkungan kelautan melakukan perawatan mingguan, memantau pertumbuhan karang, dan mencatat jenis ikan yang muncul. Setiap enam bulan sekali, pengujian kualitas air laut juga dilakukan bersama lembaga independen sebagai verifikasi eksternal.
Pengelolaan air tambang yang terkontrol
Untuk mencegah sedimentasi langsung ke laut, Harita membangun kolam sedimen (kolam sedimentasi) yaitu kolam besar tempat air dialirkan agar sedimen tanah bisa mengendap sebelum dialirkan ke badan sungai.
Selain itu, air hujan juga ditampung dan dimanfaatkan kembali. Langkah ini menjadi bagian dari upaya proaktif Harita Nickel untuk mengurangi ketergantungan pada sumber air tawar yang terbatas. Sementara itu, sisa hasil pengolahaan dari porsi HPAL (High Pressure Acid Leach) juga dikelola dengan metode Dry Stack Tailings Facility (DSTF).

Audit independen untuk transparansi
Untuk memastikan praktik ini sesuai standar, Harita Nickel membuka diri terhadap audit eksternal, termasuk IRMA (Initiative for Responsible Mining Assurance). Audit ini menilai aspek lingkungan, sosial, hingga tata kelola, sekaligus memberikan rekomendasi perbaikan.
Produktivitas laut Obi yang tetap terjaga
Nelayan desa Kawasi dan sekitarnya bisa melaut dengan hasil berupa ikan kerapu, baronang, hingga cumi-cumi. Meski ada musim paceklik karena faktor alam, kondisi ini menegaskan laut Obi tetap produktif sebagai sumber pangan dan ekonomi lokal.
Kesehatan laut di Pulau Obi masih bisa dilihat dari kehadiran ikan, karang, hasil tangkapan nelayan, serta pertumbuhan terumbu yang positif. Di sisi lain, Harita Nickel terus berupaya menjaga ekosistem melalui pemulihan terumbu, memantau kualitas laut, mengelola air tambang, hingga melakukan audit independen.
Dengan sinergi perusahaan, masyarakat, dan pemerintah, Pulau Obi bisa terus dikenal bukan hanya karena nikelnya, tetapi juga karena lautnya yang kaya dan sehat. (Cr)







Tinggalkan komentar