Premanisme Berkedok Protes, Warga Soligi Tolak Aksi Pemalangan Jalan Bandara

HALMAHERA SELATAN – Konflik pemalangan jalan di proyek Bandara Desa Soligi kian memanas. Hari ini (2/5), kesabaran warga mencapai puncaknya. Puluhan ibu-ibu dari Kelompok Wanita Tani (KWT) dan nelayan setempat merangsek ke lokasi pemalangan, menuntut akses jalan segera dibuka karena ekonomi warga kini berada di titik nadir.

Aksi blokade jalan ini bukan lagi sekadar aspirasi, melainkan sabotase bagi dapur warga. Ibu-ibu petani dan nelayan yang bergantung pada penjualan harian hanya bisa meratapi sayuran dan ikan tangkapan mereka yang membusuk di tempat.

​“Kami ini mau makan! Sayur sudah layu, ikan sudah busuk karena jalan ditutup. Siapa yang mau tanggung jawab kalau kami rugi begini?” teriak salah satu perwakilan KWT dengan nada tinggi di lokasi kejadian.

Situasi sempat tegang saat adu argumen pecah. Warga mencium adanya kejanggalan dalam aksi pemalangan ini. Mereka mempertanyakan kehadiran oknum-oknum yang bukan warga asli Desa Soligi namun justru terlihat paling vokal dalam menutup jalan.

​“Ini aneh. Kami yang tinggal di sini yang sengsara, tapi yang ikut nutup jalan malah orang dari luar. Mereka tidak tahu susahnya cari uang di sini, cuma bisa memperkeruh suasana!” tegas seorang warga setempat yang geram melihat adanya intervensi pihak asing.

Pemerintah Desa Soligi yang turun ke lokasi memperingatkan dengan tegas: aspirasi adalah hak, tapi menutup fasilitas umum adalah tindakan yang merugikan publik secara luas. Aparat dan pihak berwenang didesak untuk bertindak tegas agar kepentingan ekonomi rakyat kecil tidak terus-menerus disandera oleh kepentingan segelintir kelompok.

Bagikan:

Berita Terkait

Tinggalkan komentar