Jakarta – Raksasa nikel asal Tiongkok, Zhejiang Huayou Cobalt Co., resmi mengumumkan penghentian sementara sejumlah lini produksi di smelter nikel PT Huafei Nickel Cobalt yang berlokasi di Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Maluku Utara, mulai 1 Mei 2026.
Berdasarkan laporan Shanghai Metals Market (SMM), keputusan ini diambil menyusul lonjakan tajam harga sulfur (belerang) dunia. Selain faktor biaya bahan baku, kondisi mesin yang terus beroperasi dengan beban tinggi sejak awal beroperasi menjadi alasan perusahaan untuk melakukan pemeliharaan (maintenance) besar-besaran.
”Akibat lonjakan tajam harga belerang serta operasi dengan beban tinggi yang berkepanjangan, perusahaan memutuskan untuk menghentikan sementara produksi guna pemeliharaan pada beberapa lini di Huafei Nickel Cobalt,” tulis pengumuman SMM yang dilansir pada Rabu (29/4/2026).
Selama periode pemeliharaan ini, SMM memperkirakan sekitar 50% dari total kapasitas produksi Huafei Nickel Cobalt akan terdampak.
Perlu diketahui, sulfur merupakan komponen krusial dalam teknologi High Pressure Acid Leach (HPAL) untuk memproses bijih nikel laterit menjadi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP)—bahan baku utama baterai kendaraan listrik. Secara teknis, produksi 1 ton MHP membutuhkan pasokan sulfur yang sangat besar, yakni sekitar 11,7 ton.
Smelter Huafei diklaim sebagai pabrik pengolahan nikel laterit terbesar di dunia dengan kapasitas desain mencapai 120.000 ton MHP per tahun. Fasilitas ini mulai beroperasi secara bertahap pada Juni 2023 dan mencapai target kapasitas penuh pada akhir kuartal I-2024.
Struktur kepemilikan saham PT Huafei Nickel Cobalt terdiri dari:
Huayou Cobalt: 51%, Glaucous International: 30%, Eve Battery: 17%, Lindo Investment: 2%
Lonjakan harga sulfur ini tidak lepas dari ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Pasalnya, sekitar 50% pasokan sulfur global (20 juta ton/tahun) berasal dari Teluk Persia melalui negara-negara seperti Arab Saudi, UEA, Qatar, Kuwait, dan Iran.
Risiko penutupan Selat Hormuz menjadi ancaman serius bagi industri nikel Indonesia. Data SMM menunjukkan bahwa pada tahun 2025, lebih dari 75% impor sulfur Indonesia berasal dari Timur Tengah, dengan rincian pemasok utama:
Arab Saudi: 1,76 juta ton, Qatar: 967.000 ton, Uni Emirat Arab: 918.000 ton
Keterbatasan pasokan di luar Timur Tengah memaksa Indonesia bersaing ketat dengan pembeli global, yang diprediksi akan semakin mendongkrak landed cost (total biaya logistik) akibat kenaikan premi asuransi dan pengalihan rute pengiriman.(Cr)







Tinggalkan komentar